Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) diharapkan mempercepat permohonan pengubahan status kelembagaan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta (PPBH) dari unit Kantor di bawah Pemkot Bukittinggi Sumbar menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi antara Plt Kepala Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Kota Bukittinggi Hj Fiorita, praktisi perpustakaan di Bukittinggi Zulkifli Johneva, Kahumas Perpusnas Agus Sutoyo dan jajaran pers di Bukittinggi, Rabu. 

Menurut Zulkifli, PPBH yang pengoperasian diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 21 September 2006 kini kelembagaannya di bawah Pemkot Bukittinggi yang dipimpin Kepala Kantor ber-eselon III dan harus mengurusi jumlah koleksi buku mencapai 130 ribu eksemplar dan sebanyak 67 pegawai.

Oleh kerane itu, kata mantan Kepala PPBH itu, Walikota Bukittinggi dan DPRD Kota Bukittinggi dan Kepala Perpusnas RI pada 3 Januari 2008 telah menyepakati untuk menyerahkan kewenangan pengurus PPBH dari Pemkot menjadi UPT Perpusnas RI, sehingga dapat mempercepat kesinambungan pembangunan dan pengembangan PPBH menjadi perpustakaan yang maju dan modern. 

Namun, hingga Oktober 2010,  kata Zulkifli, belum turun surat keputusan dari Kemenpan, tentang peningkatan status PPBH menjadi UPT Perpusnas RI, sedangkan Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitan Jatim telah menjadi UPT Perpusnas RI.

Sementara itu, HJ Fiorita mengatakan, PPBH yang dibangun 2003-2006 di atas tanah 6.500 m2 berlantai tiga berada di Bukit Bantah Komplek Kantor Walikota Bukittinggi. Pembangunan gedung menghabiskan dana sekitar Rp35 miliar yang berasal APBN Perpusnas RI sekitar Rp25 miliar, Pemprov Sumbar sekitar Rp5 miliar dan Pemkot Bukit Tinnggi Rp5 miliar.

Fiorita menyambut baik tentang peningkatan status kelembagaan PPBH menjadi UPT Perpusnas RI, sehingga dapat segera dikembangkan menjadi perpustakan yang lengkap dan modern, serta dapat merekut tenaga ahli pustakawan yang mampu mengelola koleksi perpustakan baik berupa buku cetak dan karya rekam.

Gedung PPBH berlantai tiga itu terlihat megah yang berada di atas Bukit Gulai Bantah Bukittinggi dengan udara cukup dingin baik di siang maupun malam hari, nampak dari tahun ke tahun bertambah jumlah koleksi buku yaitu dari 70.000 eksemplar pada 2006 menjadi 130.000 pada 2010.

"Pengunjungnya bertambah terus dari sekitar 88.000 orang pada 2007, menjadi 120.000 orang (2008), 127.000 orang (2009) dan hingga september 2010 (124.885 orang pengunjung," katanya. PPBH memiliki sekitar 65 judul buku tentang Bung Hatta, sedang jumlah buku tentgang Bung Hatta mencapai 85 judul di Indonesia terdiri buku yang ditulis Bung Hatta sendiri dan orang lain.

Kendati PPBH masih berstatus dibawah Pemkot Bukittinggi, kini memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan membuka layanan perpustakaan selama tujuh hari, hari Senin-Minggu, serta menerjunkan mobil perpustakaan keliling guna memberikan pelayanan peminjam kepada masyarakat yang tidak bisa datang ke PPH.

PPBH sebagai lembaga pencerdas kehidupan bangsa itu memilki sepuluh fungsi, seperti loby dan resepsi, adminitrasi pengelolaan, layanan kunjungan dan peminjaman buku, pendidikan dan pelatihan, rekreasi dan hiburan, telemedia dan telekomunikasi, penyimpanan dan pengembangan, souvenir dan kantin, fasilitas umum, serta fungsi pencitraan tokoh Proklamtor Bung Hatta.(*)